Make your own free website on Tripod.com

APAKAH ORANG KRISTEN HARUS SELALU SEHAT?*

 

 

Daftar Isi

Kata Pengantar

Masalah Penderitaan

Pendapat Orang-orang Kristen

Kepastian Alkitabiah Mengenai Tokoh-tokoh yang Menderita

Orang-orang Sakit dan Menderita Dalam Alkitab

Beberapa Pertanyaan Tentang Penyembuhan

Apakah Allah Ingin Saya Sehat?

Penyakit, Penyembuhan, dan Anda

 

 

KATA PENGANTAR

        Apakah orang Kristen harus selalu sehat? Apakah Allah menggunakan sakit-penyakit dalam kehidupan anak-anak-Nya untuk membangun karakter mereka? Apakah tindakan ini sesuai dengan sifat Allah yang penuh kasih? Apakah kita mengalami sakit karena tidak memiliki iman untuk disembuhkan? Apakah Allah menyembuhkan manusia pada masa kini melalui pelayanan kesembuhan ilahi? Saat penyakit atau penderitaan menimpa diri kita atau orang yang dekat dengan kita, bagaimana sikap kita? Apa yang harus kita lakukan?

        Pertanyaan-pertanyaan di atas dan banyak pertanyaan serupa akan dijawab oleh Herb Vander Lugt dalam buku ini. Ia menunjukkan apa yang diajarkan Alkitab tentang penyembuhan. Dan ia mengungkap empat hal positif dan tak dapat dibantah yang dapat diandalkan oleh setiap anak Allah dalam menghadapi penyakit dan penderitaan.

Martin R. De Haan II

 

MASALAH PENDERITAAN

Laki-laki itu menanggapi usaha saya untuk menolongnya dengan sikap marah. Ia sedang sekarat karena kanker paru-paru dan dipenuhi kegetiran. Ia mengutarakan bahwa ia tidak ingin mendengar apa pun tentang Allah yang membiarkan manusia ditimpa penderitaan dalam kehidupan ini. Ia berkata, "Saya berbalik menentang Alkitab dan iman Kristen saat ibu sekarat karena penyakit yang sama seperti saya derita. Ibu adalah seoarang Kristen yang saleh, tetapi meski tekun berdoa agar Allah menyembuhkan atau membawanya pulang ke surga, ia tetap hidup dengan rasa sakit yang luar biasa bulan demi bulan. Saya menyimpulkan bahwa Allah tidak ada atau Dia bukanlah Allah seperti yang Anda kira."

        Hati saya penuh dengan belas kasihan kepadanya, tetapi tak ada kata-kata saya yang dapat diterimanya. Akhirnya saya bertanya, "Apakah ibu Anda juga meninggalkan Allah?" Ia menjawab, "Tidak, ibu terus berbicara tentang anugerah Allah dan akan tinggal bersama Yesus." Lalu ia segera menambahkan, "Namun saya tidak memiliki iman seperti yang dimiliki ibu."

        Tak diragukan lagi, banyak orang meninggalkan Allah karena penderitaan. Mereka sulit mempercayai bahwa Allah yang penuh kasih dan mahakuasa membiarkan orang-orang yang baik mengalami penderitaan. Di sisi lain, beribu-ribu orang telah memberikan kesaksian bahwa justru dalam dukacita yang menyesakkan atau penderitaan yang berat itulah mereka merasa Allah menjadi lebih nyata dan berharga daripada sebelumnya.

 

PENDAPAT ORANG-ORANG KRISTEN

Sebagai orang Kristen, kita sependapat bahwa Allah itu penuh kasih, bijaksana, dan mahakuasa. Kita sependapat bahwa Allah yang baik memberikan kebebasan kepada makhluk ciptaan-Nya untuk memilih antara yang baik dan yang jahat, dan pilihan yang salah akan menimbulkan kutukan Allah di bumi. Kita juga sependapat bahwa Allah yang tak terbatas kebijaksanaan dan kebaikan-Nya itu merancangkan suatu rencana demi kebaikan kita dan kemuliaan-Nya.

        Namun, di antara kita yang percaya pada Alkitab pun, terdapat beberapa hal yang kita tidak sependapat. Kita memberikan jawaban yang berbeda terhadap dua pertanyaan yang sangat penting berkenaan dengan tujuan dari penderitaan dan pelayanan penyembuhan adikodrati.

        Apakah Allah menggunakan penyakit untuk membuat manusia menjadi lebih baik? Ken Blue, seorang Kristen Injili dengan pelayanan yang efektif di Vancouver, menjawab tidak. Ia menulis:

Apa yang kita sebut penderitaan di dalam keluarga duniawi, disebut oleh beberapa orang sebagai berkat di dalam keluarga Allah. Francis McNutt berkata, "Ayah atau ibu manakah yang menghendaki adanya kanker untuk menaklukkan kesombongan anak perempuan mereka?"... Salah satu rintangan terbesar terhadap pelayanan penyembuhan di gereja masa kini adalah pendapat bahwa penyakit pada dasarnya baik bagi kita, dan diberikan untuk memurnikan jiwa dan membangun karakter... (Authority to Heal, InterVarsity Press, hal. 21-22)

        Di sisi lain, Dr. M.R. De Haan, seoarang dokter, pendeta, dan pendiri RBC Ministries mengatakan bahwa Allah menggunakan penyakit dalam kehidupan anak-anak-Nya untuk membuat mereka menjadi lebih baik. Ia menulis:

Khotbah-khotbah terbesar yang pernah saya dengar tidak diucapkan dari atas mimbar, melainkan dari tempat tidur orang sakit. Kebenaran terbesar dan terdalam dari Firman Allah seringkali diungkapkan... oleh jiwa-jiwa yang rendah hati yang telah melewati jalan penderitaan dan mempelajari hal-hal yang mendalam tentang jalan Allah melalui apa yang dialaminya.

        Apakah Anda termasuk anak Allah yang terkasih tetapi tertimpa penyakit dan menderita? Ingatlah bahwa Bapa tetap tahu yang terbaik... Buah anggur harus dihancurkan sebelum kita dapat membuat anggur. Tanpa dipetik hingga mengeluarkan suara yang melengking, biola tak akan menghasilkan musik. Gandum harus ditumbuk hingga halus untuk membuat roti. Kita mungkin tidak mengerti apa yang dilakukan Allah saat ini, tetapi suatu hari kelak kita akan memahami dan menjadi serupa dengan Dia (Broken Things, Discovery House Publishers, 1988, hal. 44, 91).

        Apakah Allah melakukan mujizat penyembuhan yang nyata pada masa kini? Setelah melakukan penelitian dengan tekun selama beberapa waktu, Dr. William Noland menyatakan tidak terdapat bukti bahwa Allah melakukan penyembuhan yang ajaib atau memberikan talenta kepada seseorang untuk melakukan hal tersebut. Ia menulis:

Dua tahun yang lalu saya mulai mencari mukjizat penyembuhan. Ketika memulai penelitian, saya berharap menemukan bukti bahwa ada orang-orang di tempat tertentu yang memiliki kuasa adikodrati yang digunakannya untuk menyembuhkan para pasien yang penyakitnya tergolong "tak dapat disembuhkan" oleh kami, para dokter yang memiliki pengetahuan dan telah menjalani berbagai pelatihan. Seperti telah saya katakan sebelumnya, saya tidak menemukan orang yang melakukan mukjizat semacam ini (Healing: A Doctor in Search of a Miracle, Fawcett, 1967, hal. 272).

        Dr. J. Sidlow Baxter, seorang guru Alkitab yang terkenal, menjawab ya. Ia menulis:

Fakta menunjukkan bahwa banyak mukjizat penyembuhan terjada pada masa kini dalam kebaktian penyembuhan besar-besaran, siapa dapat menyangkalnya? Orang-orang yang belum mengalami dan melihatnya sajalah yang menyangkal. Dengan mata kepala sendiri, saya telah menyaksikan orang bisu sejak lahir diberi kemampuan untuk berbicara, orang yang tuli sama sekali diberi pendengaran baru, orang yang telah lama buta tiba-tiba mendapat penglihatan baru, kanker yang mematikan disembuhkan saat itu juga (kemudian dibuktikan secara medis), penderita artritis yang timpang dibebaskan dari penyakitnya dan dapat berdiri tegak di tempat itu juga, para penderita yang duduk di kursi roda karena mengalami multiple sclerosis kini membuang kursi roda mereka, belum lagi banyak penyembuhan yang luar biasa semacam itu (Divine Healing of the Body, Zondervan, 1979, hal. 270).

        Kita dapat memberikan jawaban ya secara mantap pada kedua pertanyaan di atas. Allah memang menggunakan penderitaan sebagai sarana pertumbuhan rohani kita. Dia juga menyembuhkan secara ajaib -- tetapi tidak selalu demikian. Dan jika Dia tidak melakukannya, kita tak perlu menyalahkan diri sendiri atau berputus asa.

 

KEPASTIAN ALKITABIAH MENGENAI TOKOH-TOKOH YANG MENDERITA

        Ia seorang perawat dan sangat yakin penyakit apa yang sedang dideritanya. Namun, wajahnya menjadi pucat saat dokter memasuki kamarnya di rumah sakit dan berkata, "Sue, saya merasa sangat menyesal harus memberitahu bahwa apa yang kamu curigai ternyata benar. Kamu menderita multiple sclerosis." Sue menyadari apa yang akan dideritanya -- kelumpuhan bertahap, gangguan berbicara, penglihatan yang berkurang, getaran-getaran pada otot, dan barangkali rasa sakit yang luar biasa. Itu semua bukan hal yang menyenangkan.

        Setelah dokter pergi, Sue dan suaminya menangis, tetapi tidak lama. Mereka berdoa, bercakap-cakap, dan mengungkapkan iman mereka. Hasilnya, mereka berdua merasakan kehadiran Roh Kudus. Mereka mendapat kekuatan untuk melanjutkan hidup. Kini, setelah dua puluh tahun berlalu, mereka baik-baik saja. Penyakit Sue memang bertambah berat, tetapi jauh lebih lambat dari yang mereka pikirkan.

        Hal-hal esensial dari kisah di atas terjadi sepanjang waktu. Tak satu pun keluarga dapat terhindar dari penyakit. Tak banyak orang, bahkan di antara mereka yang paling saleh sekalipun, dapat menikmati kesehatan yang sangat baik sampai usia tua dan dengan tenang meninggalkan dunia ini. Kenyataannya tidak demikian. Itulah sebabnya kita perlu mengetahui apa yang diajarkan Alkitab mengenai penyakit dan penyembuhan.

        Pembahasan berikut akan mengungkap empat hal positid dan tak dapat dibantah yang dapat diandalkan oleh setiap anak Allah dalam menghadapi penyakit dan penderitaan: (1) Allah akan menyembuhkan Anda, (2) Allah merasakan penderitaan Anda, (3) Allah tahu mengapa Anda menderita, dan (4) Allah mengendalikan segala sesuatu.

 

ALLAH AKAN MENYEMBUHKAN ANDA

        Jika Anda adalah seorang Kristen yang sedang sakit atau menderita, Anda dapat berpijak pada kepastian bahwa Allah akan menyembuhkan Anda -- mungkin di dunia ini, tetapi pasti di surga. Itulah jaminan yang Dia berikan. Sebagai anak-anak-Nya, kita ditetapkan untuk menerima tubuh baru yang dimuliakan dan hidup untuk selama-lamanya di surga. Rasul Paulus mendapatkan banyak penghiburan dari pengharapannya akan kebangkitan dan kemuliaan kekal. Setelah menegaskan tentang kebangkitan Kristus dalam 1 Korintus 15, ia melanjutkan penjelasan bahwa kita juga akan menerima tubuh kebangkitan (ayat 20-58). Kebenaran ini menguatkan Paulus tatkala ia mengalami penderitaan dalam pelayanannya bagi Tuhan. Dengan sukacita dan sikap optimis ia menulis:

Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. (2Korintus 4:16-5:1)
   

        Barangkali Anda tidak menanggapi ayat-ayat tersebut dengan antusias. Anda ingin disembuhkan di dunia ini dan saat ini juga. Perasaan Anda itu sangatlah wajar. Penderitaan memang tidak menyenangkan. Secara naluri kita menginginkan kesehatan yang prima dan terbebas dari rasa sakit. Kita menginginkannya saat ini juga. Tetapi jika kita membiarkan diri berpikir seperti itu, berarti kita melihat kehidupan berdasarkan pandangan orang-orang yang tidak memiliki pengharapan sejati akan surga, orang-orang yang memberitahu kita agar meraih semua kesenangan yang dapat kita peroleh karena "kita hanya hidup satu kali."

        Hal itu tidak benar! Orang percaya harus memiliki sikap hidup yang lebih baik dari orang-orang pada umumnya. Kita harus berani menghadapi kenyataan bahwa hidup itu singkat dan segala sesuatu yang ada di dunia ini tak ada yang sempurna. Kita dipanggil untuk melatih iman dan memandang melampaui apa yang bersifat segera dan duniawi. Kita akan hidup untuk selamanya di sebuah dunia baru yang indah! Jika kita benar-benar memahami kebenaran ini, maka kita dapat memiliki sikap penuh kemenangan seperti dinyatakan Paulus dalam 2 Korintus 4. Kita akan mulai menantikan realita surga yang kekal dan tak terlihat dengan penuh sukacita. Sesungguhnya, kita akan "bermegah dalam pengharapan akan kemuliaan Allah" (Roma 5:2).

        Joel A. Freeman memberikan contoh mengenai seseorang yang belajar melakukan hal ini. Ia menulis, "Brian memahami prinsip ini. Ia mempelajarinya melalui cara yang sulit. Dengan sinar mata penuh kekesalan, pemuda berusia 18 tahun itu berusaha melindas jari-jari kaki saya dengan kursi roda listriknya yang berkekuatan penuh. (Lain kali ingatkan saya untuk memakai sepatu boot dari baja saat mengunjunginya.)

        "Empat tahun lalu Brian sedang bersepeda ketika seorang pengemudi mabuk melintas melewati jalur tengah dan menabraknya dengan sangat keras. Brian terlempar sejauh kira-kira tiga puluh meter. Yang diingat Brian selanjutnya adalah sentuhan lembut tangan seorang perawat pada keningnya -- lima hari kemudian.

        "Sebagai orang lumpuh, Brian harus bertarung melawan cengkeraman sikap mengasihani diri sendiri. Ia berjuang melawan bisikan yang membujuknya untuk bunuh diri. Namun, tahukah Anda apa yang terjadi? Brian mencapai kemenangan yang luar biasa -- ia mengakui kedaulatan Allah dalam persoalannya tersebut.

        "Kondisi jasmani Brian tidak mengalami kemajuan yang berarti. Namun sikapnya berubah 180 derajat, dari penderitaan yang mengakibatkan kemarahan dan keputusasaan menjadi mata yang berbinar-binar penuh tujuan hidup. Ia menjadi penghibur orang lain karena ia sendiri telah dihibur" (God Is Not Fair, Here's Life Publishers, hal. 110).

        Brian memang tak sepenuhnya sehat secara jasmani. Namun ia telah merasakan kehadiran Allah. Ia tahu bahwa dirinya termasuk dalam sekelompok besar tokoh yang telah menderita sebelumnya (Ibrani 11:30-12:4). Hal ini memberinya semangat dan membuatnya merindukan saat ia benar-benar disembuhkan dan tinggal bersama mereka.

 

ALLAH MERASAKAN PENDERITAAN ANDA

        Jika Anda adalah orang percaya yang mengalami penderitaan, maka kepastian alkitabiah kedua yang dapat memberikan kekuatan besar bagi Anda adalah mengetahui bahwa Allah juga ikut menderita bersama Anda. Dalam filsafat Yunani dikatakan bahwa Allah bukanlah "Pencipta yang tak tergerak hatinya." Dia bukanlah Pribadi tak berperasaan yang tidak mempedulikan penderitaan makhluk ciptaan-Nya. Juga bukan Allah yang berubah-ubah dalam melakukan kehendak-Nya tanpa mempedulikan perasaan orang-orang yang menderita. Sebaliknya, Dia adalah Bapa Surgawi yang penuh kasih. Dia turut merasakan penderitaan yang kita alami. Pemazmur berkata, "Seperti Bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu" (Mazmur 103:13-14).

        Ketika merenungkan kembali hubungan Allah dengan Israel, pemazmur menulis, "Ia menjadi Juruselamat mereka dalam segala kesesakan mereka... Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya" (Yesaya 63:8-9). Dalam Perjanjian Lama, para nabi berulangkali menggambarkan bahwa Allah senang memberkati anak-anak-Nya dan berdukacita saat mereka harus menderita.

        Namun, fakta bahwa Allah turut merasakan penderitaan kita tak terungkap sepenuhnya sebelum hal itu dinyatakan melalui pribadi Yesus Kristus. Dialah "Imanuel," Allah beserta kita (Yesaya 7:14). Yesus, pribadi kedua dari Trinitas yang kekal, menjadi manusia. Dia menanggung segala derita yang dapat kita alami. Dia dilahirkan di sebuah kandang, menjadi anggota sebuah keluarga miskin. Dia dibesarkan di sebuah rumah sederhana di desa kecil. Dia hidup sebagai pekerja kasar sampai usia 30 tahun. Dia tidak memiliki rumah selama tiga tahun pelayanan-Nya. Dia dibenci oleh saudara-saudara tiri-Nya. Dia ditolak oleh orang Yahudi. Dia disalah mengerti dan disalahtafsirkan. Dia diejek. Dia difitnah. Dia dikhianati oleh murid-Nya. Dia ditinggalkan oleh sahabat-sahabat-Nya yang terdekat. Dia dicambuk. Dia dipaksa untuk memikul balok kayu besar pada punggung-Nya yang terkoyak. Dia dipaku di atas kayu salib, bahkan digantung disitu. Dia menanggung hinaan dari para pengejek.

        Mengapa Yesus melakukan semua itu? Tak dapatkah Dia membayar harga dosa-dosa kita tanpa mengalami semua hinaan dan siksaan itu? Sepanjang pengetahuan kita, jawabannya adalah dapat. Kematian-Nya di atas kayu saliblah, bukan penderitaan sebelum di Kalvari, yang menebus dosa kita. Tampaknya Dia menjalani penderitaan dan penghinaan itu karena dua alasan: untuk mengungkapkan isi hati Allah (2 Korintus 4:6), dan menjadi Imam Besar kita yang bersimpati (Ibrani 4:15-16). Allah selalu menderita jika umat-Nya menderita, tetapi Dia menunjukkannya dengan sangat nyata melalui inkarnasi -- peristiwa yang berawal di Betlehem.

        Apakah Anda sedang menderita? Apakah Anda sedang berdukacita? Apakah Anda kecewa karena akan mati sebelum dapat mewujudkan rencana dan harapan Anda? Yakinlah bahwa Allah mempedulikan Anda. Dia turut menderita bersama Anda. Dia juga tidak menyukai penderitaan Anda, lebih dari yang Anda rasakan. Allah dapat campur tangan dan memulihkan Anda dengan segera. Tetapi jika Dia harus melakukan hal itu bagi Anda dan semua orang yang sedang menderita, maka tak seorang pun membutuhkan iman yang membangun karakter kristiani. Itulah sebabnya Dia mengizinkan Anda menderita. Meskipun demikian, seperti halnya Anda, Dia pun menanti-nantikan saat tatkala seluruh penderitaan manusia akan berakhir.

        J.I. Packer mengungkap kebenaran ini dengan sangat mengesankan:

Kasih Allah kepada orang berdosa membuat-Nya merendahkan diri untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sikap semacam ini terdapat dalam keseluruhan kasih: sesungguhnya sikap ini merupakan ujian kasih itu sejati atau tidak... Bukannya tanpa makna bila Alkitab terus-menerus mengungkapkan bahwa Allah adalah Bapa yang penuh kasih dan mempelai pria dari umat-Nya. Hakikat dari hubungan tersebut adalah kebahagiaan Allah tidak akan lengkap sebelum semua umat-Nya yang terkasih akhirnya terlepas dari kesulitan... Sesungguhnya Dia telah memutuskan bahwa sejak saat ini dan untuk selamanya kebahagiaan-Nya akan tergantung pada kebahagiaan kita. Jadi Allah tidak menyelamatkan manusia semata-mata demi kemuliaan-Nya, tetapi juga kebahagiaan-Nya (Knowing God, InterVarsity Press, 1973, hal. 113).

        Seperti suami yang baik menderita saat melihat istrinya menderita, dan orangtua yang penuh kasih merasakan tekanan batin yang dialami anak-anaknya, demikian pula Tuhan turut merasakan penderitaan Anda dan Dia tidak akan merasa bahagia sebelum Anda terlepas dari penderitaan itu.

 

ALLAH TAHU MENGAPA ANDA MENDERITA

        Berikut ini adalah kepastian ketiga yang memberi penghiburan. Kita menginginkan jawaban tatkala mengalami penderitaan, sehingga kita berseru, "Mengapa ini harus terjadi?" Bahkan hamba-hamba Allah pun melakukan hal yang sama saat mengalami dukacita atau penderitaan.

        Saya mengenal seorang hamba Tuhan yang belum lama berselang mengetahui bahwa ia terkena kanker. Ia merasa tidak senang dengan jalan Allah tersebut. Ia bercerita kepada temannya, "Saya tidak mengerti mengapa Allah mengizinkan hal ini terjadi. Saya telah melayani-Nya dengan setia. Saya tidak menyimpan dosa. Saya merawat tubuh saya. Saya makan makanan yang menyehatkan. Saya menghindari gula, kopi, dan limun. Saya menjaga berat bada. Saya rasa tak seharusnya saya menderita penyakit ini."

        Keluhan ini mengingatkan kita pada keluhan yang dikemukakan Ayub hampir 4.000 tahun yang lalu. Ayub mengucapkan kata mengapa sebanyak 16 kali. Ia bahkan menuliskan 12 pernyataan yang menunjukkan bahwa ia adalah manusia yang bermoral, jujur, baik, dan pengasih (Ayub 31:1-14). Tetapi Allah tak pernah menjawab pertanyaan mengapa yang diajukan Ayub. Demikian pula Allah tidak menjawab pertanyaan yang keluar dari bibir hamba Tuhan teman saya itu. Meskipun demikian, Allah melakukan yang lebih baik. Dia memberikan kenyakinan kepada mereka bahwa Dia tahu mengapa mereka menderita. Dia melakukan hal tersebut dengan mengingatkan mereka akan hikmat dan kuasa yang menakjubkan yang ditunjukkan-Nya melalui penciptaan dunia. Selain itu, Dia membawa mereka ke suatu tahapan yang memapukan mereka mengakui hikmat dan kebaikan-Nya yang sempurna.

        Kadang-kadang kita dapat menjawab pertanyaan "mengapa" itu. Adalah baik jika kita selalu menyelidiki hati kita untuk mengetahui apakah kita melakukan kesalahan sehingga mengalami penderitaan. Kita mungkin sakit karena tidak mentaati peraturan kesehatan. Mungkin kecelakaan yang melukai kita adalah akibat kecerobohan kita. Tetapi mungkin juga penyakit kita disebabkan oleh hajaran Allah karena adanya dosa dalam kehidupan kita (1 Korintus 11:29-30; Ibrani 12:6). Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa beberapa orang Kristen mati sebelum waktunya (menurut pandangan manusia) karena dosa (Kisah Para Rasul 5:1-11; 1 Korintus 11:30). Jika kita menyadari bahwa selama ini kita tidak taat, kita harus bertobat. Allah akan memberikan pemulihan jika kita bertobat. Dan jika kita melihat kematian orang yang kita kasihi yang telah jatuh ke dalam dosa, kita akan merasa terhibur oleh kenyakinan bahwa Allah kadang-kadang memanggil anak-Nya pulang daripada melihatnya terus-menerus merusak diri.

        Namun, sering kita tidak mendapatkan jawaban spesifik terhadap pertanyaan "mengapa" itu. Kita tidak dapat selalu berharap mengetahui alasan penderitaan kita. Meskipun demikian, Allah tidak meninggalkan kita sama sekali dalam kegelapan. Selain meyakinkan bahwa Dia tahu mengapa kita menderita, Allah juga mengatakan bahwa penderitaan yang tak dapat dijelaskan sekalipun memiliki tujuan yang berharga.

        Dalam Yohanes 9,  Yesus menggunakan pertemuan-Nya dengan seoarang laki-laki buta untuk memberi pelajaran mengenai hal ini kepada para murid-Nya. Mereka bertanya kepada-Nya, "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orangtuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" (ayat 2). Jelas bahwa murid-murid Yesus melihat penderitaan tersebut sebagai hukuman atas dosa seseorang -- mungkin dosa orangtuanya atau dosanya sendiri ketika masih dalam kandungan. Jawab Yesus kepada mereka, "Bukan dia dan bukan juga orangtuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia" (ayat 3). Penderitaan orang buta itu bukanlah hukuman atas dosa, melainkan memiliki tujuan tertentu. Penderitaan tersebut diizinkan terjadi agar orang buta itu menjadi sarana untuk menunjukkan kuasa Allah. Setelah menjelaskan hal tersebut kepada para murid, Yesus berkata, "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja" (ayat 4). Kemudian Yesus mencelikkan mata orang itu.

        Maknanya jelas bagi kita. Daripada menghabiskan tenaga untuk berspekulasi yang tak ada gunanya tentang mengapa kita menderita, mari kita memandang penderitaan, baik penderitaan kita sendiri maupun yang kita lihat pada orang lain, sebagai kesempatan untuk menunjukkan kuasa Allah dan membawa kemuliaan bagi-Nya. Mungkin Allah akan menjawab doa-doa kita dengan menyembuhkan kita. Mungkin Dia akan menggunakan penderitaan orang yang kita kasihi untuk membuat kita lebih berbelaskasihan, lebih ramah, lebih penolong. Atau mungkin Dia mengizinkan kita menderita, tetapi juga memberikan anugerah yang luar biasa sehingga kita menjadi kesaksian yang bersinar demi kemuliaan-Nya. Sesungguhnya Allah memiliki banyak alasan yang baik tatkala mengizinkan kita menderita.

Penderitaan membuat Iblis tutup mulut (Ayub 1-2).

Penderitaan memberi kita kesempatan untuk memuliakan Allah (Yohanes 11:4).

Penderitaan membuat kita menjadi semakin serupa dengan Kristus (Ibrani 2:10; Filipi 3:10).

Penderitaan mengajar kita untuk bersandar kepada Allah (Keluaran 14:13-14; Yesaya 40:28-31).

Penderitaan memungkinkan kita untuk menguji iman kita (Ayub 23:10; Roma 8:24-25).

Penderitaan mengajarkan ketekunan kepada kita (Roma 5:3; Yakobus 1:2-4).

Penderitaan membuat kita mampu bersimpati (2 Korintus 1:3-6).

Penderitaan membuat kita senantiasa rendah hati (2 Korintus 12:7-10).

Penderitaan membawa ganjaran (2 Timotius 2:12; 1 Petrus 4:12-13).

        Ada banyak alasan lain yang dapat diberikan atas terjadinya penderitaan. Kita mungkin tidak tahu mana yang sesuai dengan keadaan kita, tetapi Allah mengetahuinya. Ini sungguh menghibur hati.

 

ALLAH MENGENDALIKAN SEGALA SESUATU

        Ini adalah kepastian alkitabiah keempat bagi orang percaya yang mengalami penderitaan. Fakta bahwa Allah mengendalikan segala sesuatu tidak berarti bahwa Dia adalah penyebab langsung dari setiap penderitaan atau penyakit. Penderitaan atau penyakit terkadang berasal dari Iblis dan biasanya dilakukan melalui hukum alam yang telah ditetapkan Allah dalam alam semesta ini.

        Iblislah yang merampas semua harta milik, anak-anak, dan kesehatan Ayub. Perempuan yang disembuhkan Yesus dalam Lukas 13:16 adalah keturunan Abraham yang "sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis." Iblis juga ikut "membinasakan tubuh" anggota gereja (1 Korintus 5:5). Dan "duri dalam daging" yang dialami Paulus adalah "utusan Iblis" untuk menggocohnya (2 Korintus 12:7).

        Namun, sebagian besar penderitaan merupakan akibat dari proses alami. Kebiasaan mabuk menimbulkan halusinasi, ucapan yang tak jelas, dan tidak sadarkan diri (Amsal 23:29-35). Pemuda yang memasuki rumah seorang pelacur adalah seperti lembu yang dibawa ke pejagalan (Amsal 7:22). Masalah pencernaan yang mengganggu Timotius mungkin berkaitan dengan air minumnya (1 Timotius 5:23). Banyak penyakit dapat disembuhkan melalui suntikan, diet, dan kebiasaan hidup sehat. Jelaslah bahwa kita tidak dapat menuduh Allah sebagai penyebab utama dari banyak penderitaan yang menimpa manusia.

        Meskipun demikian, fakta bahwa Iblis dan faktor-faktor alam merupakan penyebab langsung dari banyak penderitaan manusia tidak dapat dipakai sebagai bukti bahwa Allah tidak terlibat. Penderitaan tidak adakn terjadi jika Dia tidak mengizinkannya. Allah mengizinkan Iblis untuk membuat Ayub menderita, tetapi Dia menentukan batasannya (Ayub 1-2). Meskipun kecelakaan atau penyakit mungkin disebabkan oleh kecerobohan manusia atau sebab alami, semua itu terjadi karena Allah mengizinkannya terjadi. Yesus menegaskan bahwa tak sesuatu pun dapat terjadi pada kita jika Allah tidak mengizinkannya. Dia mengatakan bahwa sebuah peristiwa yang tampak tidak penting, seperti jatuhnya seekor burung pipit, tidaklah terjadi "di luar kehendak Bapa" (Matius 10:29). Paulus mengungkapkan tentang kuasa Allah mengendalikan segala sesuatu dengan menyatakan bahwa kita yang percaya "ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya" (Efesus 1:11).

        Allah mengendalikan segala sesuatu. Dia mungkin mengizinkan Iblis menguji Anda dengan membuat Anda sakit. Dia mungkin mengizinkan Anda merasakan penderitaan yang berat melalui kecelakaan yang disebabkan oleh kecerobohan atau serangan orang jahat. Peristiwa-peristiwa yang tak menyenangkan ini menguji dan bahkan mungkin menggoda kita untuk berbuat dosa, tetapi kita dapat bersandar pada jaminan berikut ini:

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar sehingga kamu dapat menanggungnya (1 Korintus 10:13).

        Pengujian apa pun yang Anda hadapi, betapa pun besarnya penderitaan atau kesengsaraan Anda, ingatlah bahwa semua itu diizinkan Bapa Surgawi untuk Anda alami. Allah mengasihi Anda. Dia mungkin akan menyembuhkan Anda secara ajaib. Namun jika tidak, Dia akan menyertai Anda melewati penderitaan dan suatu saat kelak akan membawa Anda pulang ke surga. Apa pun yang dilakukan-Nya, Dia memperhatikan kesejahteraan Anda. Allah yang mahabijaksana dan mahabaik yang Anda layani mengendalikan segala sesuatu.

 

ORANG-ORANG SAKIT DAN MENDERITA DALAM ALKITAB

Alkitab memuat banyak kisah tentang penyakit yang berat, penderitaan yang hebat, dukacita yang dalam, dan kematian sebelum waktunya. Semua itu dapat dihubungkan dengan Allah atau Iblis. Dalam beberapa kasus, sumbernya tidak disebutkan. Terkadang penyembuhan itu terjadi melalui mukjizat. Pada saat yang lain, penyembuhan itu terjadi secara alami. Dan dalam beberapa kasus lainnya, penyembuhan sama sekali tidak terjadi dan orang sakit itu meninggal. Terkadang alasannya hanya dapat disebutkan. Dan pada beberapa peristiwa lainnya, alasan itu tidak disebutkan sama sekali. 

Ayub (Ayub 1-42)

Identitas: seorang laki-laki yang saleh dan kaya, hidup kira-kira 4000 tahun yang lalu (1:1-5).

Penderitaan: musnahnya kekayaan, kematian anak-anak, munculnya penyakit kulit yang sangat menyakitkan (1:13-19; 2:1-10).

Sumber penderitaan: Iblis, dengan izin Allah (1:12; 2:6).

Alasan penderitaan: pengujian dan pemurnian (1:6-12; 2:1-10; 23:10).      

Hasil dari penderitaan: pengenalan yang lebih mendalam akan Allah dan diri sendiri (42:1-6).

Pelajaran: Allah dan Iblis mungkin terlibat bersamaan sebagai penyebab penderitaan kita (Ayub 1:12; 2:6).

 

Miryam (Keluaran 15:20-21; Bilangan 12; 26:59)

Identitas: saudara perempuan Musa dan Harun.

Penderitaan: lepra.

Sumber: Allah.

Alasan: hukuman atas pemberontakan.

Hasil: pertobatan, penyembuhan, pemulihan.

Pelajaran: terkadang Allah menggunakan penderitaan untuk menghajar anak-anak-Nya yang tidak taat.

 

Istri Yehezkiel (Yehezkiel 24:15-27)

Identitas: istri seorang nabi besar.

Penderitaan: penyakit dan kematian.

Sumber: Allah.

Alasan: untuk menggambarkan hubungan Allah dengan bangsa Israel.

Hasil: Allah dimuliakan (disebutkan secara tersirat).

Pelajaran: terkadang Allah menggunakan penderitaan dan bahkan kematian untuk menyempurnakan rencana-Nya.

 

Mefiboset (2 Samuel 4:4; 9)

Identitas: anak Raja Saul.

Penderitaan: kakinya timpang karena jatuh.

Sumber: tidak disebutkan.

Hasil: penderitaan sepanjang hidup tanpa mengalami kesembuhan.

Pelajaran: Allah tidak selalu memberitahu mengapa kita menderita.

 

Paulus (2 Korintus 12:1-10)

Identitas: rasul besar bagi bangsa non-Yahudi.

Penderitaan: duri dalam daging (penyakit jasmani yang tidak disebutkan secara jelas).

Sumber: pemberian Allah (tersirat) dan "utusan iblis".

Alasan: menjaga agar Paulus tidak meninggikan diri karena pengalaman rohaninya yang unik.

Hasil: duri itu tetap ada pada Paulus meskipun ia berdoa agar dibebaskan, tetapi menjadi berkat karena membuatnya lebih bersandar kepada Tuhan.

Pelajaran: Allah tidak selalu memberikan kesembuhan, pada anak-anak-Nya yang paling taat sekalipun.

 

 

BEBERAPA PERTANYAAN TENTANG PENYEMBUHAN

Pada beberapa halaman berikut, kita akan mencoba menjawab beberapa pertanyaan umum tentang penyembuhan yang sering dikemukakan berkenaan dengan bagian Alkitab tertentu.

        Bagaimana dengan kuasa yang diberikan kepada kita untuk menyembuhkan? Dalam sebuah artikel di Renungan Harian, saya mengatakan bahwa meskipun kita tidak berkuasa membangkitkan orang mati, kita dapat melakukan hal-hal praktis untuk menolong mereka yang sedang berduka. Saya sangat terkejut karena beberapa orang menulis surat kepada saya dan menuduh saya tidak mempercayai Matius 10:7-8, 'Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma."

        Ya, Tuhan memang memberi murid-murid-Nya kuasa untuk menyembuhkan, bahkan membangkitkan orang mati (meskipun perkataan tersebut tidak didapatkan pada beberapa salinan naskah pada zaman dulu). Tetapi sungguh salah jika kita menganggap perkataan itu sebagai perintah yang harus dijalankan atau pelimpahan kuasa kepada kita untuk menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan orang mati. Perkataan tersebut ditujukan kepada sekelompok orang pada saat itu, di sisi lain dari Kalvari, memberitakan "Injil Kerajaan Allah" hanya kepada bangsa Yahudi. Setelah menghubungkan dengan bacaan di atas, Dr. De Haan dengan gaya penulisannya yang cemerlang menuliskan:

Para rasul itu tak boleh menerima uang untuk pelayanan mereka. Mereka tak boleh menerima apa pun, tetapi harus hidup dari kebaikan hati, kemurahan dan kedermawanan orang-orang yang mereka layani... Mereka tak boleh bermalas-malasan dalam kemewahan, maupun tinggal di kamar hotel yang mahal. Kehidupan mereka haruslah merupakan kerja keras dan penyangkalan diri; hidup prihatin sebagai pengikut Dia yang "tak mempunyai tempat untuk meletakkan kepada-Nya; yang dilahirkan di sebuah kandang, bergantung pada kemurahan hati sahabat-sahabat-Nya, menunggangi keledai pinjaman, dan mati di atas kayu salib yang diperuntukkan bagi orang berdosa. Dengan demikian, jika perintah dalam ayat 8 yaitu "Sembuhkanlah orang sakit" dianggap sebagai perintah untuk kita saat ini, maka perintah tersebut seharusnya mencakup semua perintah lain yang diberikan Tuhan berkenaan dengan bacaan ini. Ayat ini terus-menerus dikutip sebagai alasan terjadinya mukjizat-mukjizat yang sama saat ini, tetapi tentu saja sikap yang konsisten mengharuskan kita untuk juga menerapkan kalimat selanjutnya dalam bacaan tersebut.

        Bagaimana dengan penyembuhan melalui penebusan dosa? "Anda tidak perlu menderita sakit. Kristus telah mati untuk segala penyakit dan dosa-dosa kita. Dengan iman kita harus menyatakan diri telah dibebaskan dari penyakit serta hukuman atas dosa-dosa kita. Itulah yang dikatakan kepada kita dalam Matius 8:16-17." Seorang pria saleh yang sekarat karena kanker mendengar seorang pengkhotbah di radio mengucapkan perkataan di atas. Ia menjadi gelisah dan mulai menderita karena rasa bersalah atas kurangnya iman di samping juga menderita karena penyakitnya. Saya meyakinkannya bahwa ia tidak kurang secara rohani. Ia dan orang-orang yang mengasihinya telah berdoa dengan sungguh-sungguh. Doa maupun iman mereka tidaklah kurang. Yang jelas, Allah belum berkenan menyembuhkannya. Akhirnya pria itu dapat menghadapi kematiannya yang semakin dekat dengan iman dan keberanian.

        Mari kita teliti Matius 8:16-17 untuk melihat secara tepat apa yang dituliskan mengenai hubungan antara penebusan dosa dan penyembuhan. Kita membaca bahwa:

Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal ini terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita."

        Kata-kata penutup di atas merupakan kutipan yang tepat dari Yesaya 54:3 dalam bahasa Ibrani. Yesus "memikul" penyakit kita dengan ikut menanggung penderitaan dan kesengsaraan umat manusia dengan penuh simpati dan belas kasihan. Mukjizat penyembuhan-Nya merupakan tanda. Mukjizat tersebut menunjukkan belas kasihan-Nya kepada kita dan menunjuk pada kematian-Nya yang menebus harga dosa kita sehingga semua penderitaan dapat berakhir. Mukjizat penyembuhan-Nya merupakan tanda-tanda penyembuhan yang pada akhirnya kelak akan dinikmati oleh semua orang yang percaya kepada-Nya.

        Dalam bacaan ini kita tak mendapati penjelasan sedikit pun bahwa kita dapat meminta kesembuhan jasmani melalui penebusan dosa. D.A. Carson dengan tajam berkata, "Salib adalah dasar dari semua keuntungan yang tersedia bagi orang percaya; tetapi ini tidak berarti keuntungan tersebut dapat kita terima dengan memintanya saat ini juga, seperti halnya kita tidak memiliki hak dan kuasa untuk menuntut kebangkitan tubuh" (The Expositor's Bible Commentary, Vol. 8, Zondervan, hal. 267).

        Bagaimana dengan pengolesan minyak? Terkadang dalam kebaktian, orang-orang sakit dan menderita diundang maju ke depan untuk diolesi dengan minyak dan didoakan. Hal ini didasarkan pada Yakobus 5:13-16. Namun dalam Yakobus, si sakit memanggil para penatua jemaat untuk mendoakannya. Barangkali ia terlalu lemah untuk datang kepada mereka. Beberapa mahasiswa teologi menafsir gabungan kata bahasa Yunani asthenia (sakit) dalam ayat 14 dan kamno (sakit) dalam ayat 15 sebagai penggambaran tentang orang yang terbaring di tempat tidurnya, karena penyakit yang hampir tak dapat disembuhkan. Pelayanan tersebut tidak terjadi dalam kebaktian umum atau undangan untuk maju ke depan!

        Para penatua itu harus berdoa untuk orang yang sakit dan mengolesinya dengan minyak. Pengolesan dengan minyak ini hanya bersifat seremonial, bukan pengobatan. Minyak tak dapat menyembuhkan penyakit yang parah dan mengancam jiwa seseorang. Di samping itu Yakobus mengatakan bahwa bukan minyak, melainkan "doa yang lahir dari iman"-lah yang menyelamatkan orang sakit dari kematian jasmani.

        Apakah doa yang lahir dari iman itu? Tentu saja bukan kondisi pikiran seseorang yang terus-menerus menangis atau berteriak karena menderita! Ini bertentangan dengan apa yang Yesus katakan tentang doa (Matius 6:7-15). "Doa yang lahir dari iman" adalah doa yang dibimbing Roh Kudus, yang peka dan tunduk pada kehendak Allah.

        Yakobus 5:13-16 ditujukan kepada orang-orang kudus pada zaman gereja mula-mula. Sebagian mahasiswa teologi merasa yakin bahwa surat tersebut hanya ditujukan kepada orang-orang yang hidup dalam zaman para rasul. Mereka menjelaskan bahwa kitab Yakobus ditulis pada masa-masa yang sangat awal, yaitu ketika para rasul yang memiliki karunia penyembuhan dan penglihatan (1 Korintus 12:1-11) masih hidup. Para mahasiswa teologi tersebut juga menunjuk fakta bahwa bacaan Alkitab di atas secara tak langsung menyatakan bahwa kita dapat selalu mengharapkan terjadinya penyembuhan.

        Namun banyak mahasiswa teologi lainnya merasa tidak puas dengan penafsiran tadi. Mereka tidak menemukan alasan yang kuat untuk membatasi perintah tersebut hanya pada mereka yang hidup dalam zaman para rasul. Karena itu mereka mengatakan bahwa kita harus menghargai permintaan orang sakit akan pengolesan minyak dan doa. Mereka juga menjelaskan bahwa pengakuan dosa juga merupakan unsur penting dalam pengolesan minyak dan doa.

        Para ahli teologi memang berbeda pendapat mengenai pengolesan minyak dalam gereja masa kini. Tetapi ada satu hal yang pasti. Tak seorang pun dapat menjadikan pengolesan minyak tersebut sebagai dasar yang alkitabiah bagi penyelenggaraan kebaktian umum pengolesan minya.

        Bagaimana dengan janji Yesus dalam Yohanes 14:12? Yesus berkata kepada para murid-Nya, "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa" (Yohanes 14:12). Pertanyaan pertama yang harus kita ajukan pada diri sendiri adalah, "Kepada siapakah Yesus berbicara?" Jawabannya jelas: murid-murid-Nya. Apakah Dia menggenapi janji-Nya? Ya, Dia menggenapi-Nya. Mukjizat yang mereka lakukan, yang sebagian di antaranya tercatat dalam Kisah Para Rasul, memang serupa dengan mukjizat yang Kristus lakukan. Tetapi bagaimana dengan "pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar"? Jelas yang dimaksud bukanlah pekerjaan yang bersifat jasmani. Bagaimana mungkin Anda dapat memberi makan 5.000 orang hanya dengan makan siang seorang anak, meredakan badai dengan satu perintah, dan membangkitkan orang mati? Yang jelas "pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar" di sini adalah kemenangan Injil secara rohani. Para rasul, dengan kuasa Roh Kudus, memimpin gerakan yang mengacaukan dunia pada zaman mereka (Kisah Para Rasul 17:6). Berjuta-juta orang, sebagian besar di antaranya orang non-Yahudi, mempercayai kabar baik dan diubahkan hanya dalam waktu 30 tahun! Janji Tuhan kepada para rasul telah digenapi.

        Ingatlah bahwa Tuhan kita menunjukkan perkataan-Nya kepada para rasul saat itu, dan Dia menggenapi janji yang diucapkan-Nya kepada mereka. Kita tidak berhak menganggap perkataan-Nya itu sebagai mandat bagi kita untuk melakukan mujizat. Bahkan pada zaman para rasul, karunia mujizat dan penyembuhan adikodrati diberikan Allah secara khusus seperti yang dikehendaki-Nya. Dia tidak memberikan karunia yang sama kepada semua orang (1 Korintus 12:1-11). Setelah menuliskan karunia itu satu-persatu, Paulus berkata, "Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya" (1 Korintus 12:11). Ya, Allah bisa saja memilih kita untuk dikaruniai kuasa melakukan banyak mukjizat, seperti yang dilakukan oleh Yesus dan para rasul. Dia berkuasa. Tetapi Dia tidak berjanji akan memberi kita kuasa untuk melakukan mukjizat. Tidak dalam Yohanes 12:14 maupun dalam bagian Alkitab lainnya!

        Bagaimana dengan karunia penyembuhan? Karunia melakukan tanda-tanda adikodrati, dalam bahasa Yunani, ditulis dengan bentuk jamak ganda (double plurals) - "gifts of healings," "gifts of tongues," "working of miracles." Hal ini mungkin mengindikasikan bahwa karunia-karunia tersebut tidak tinggal menetap dalam diri seseorang seperti karunia untuk sebuah jabatan, misalnya rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar (Efesus 4:11). Karunia-karunia tersebut diberikan kepada seseorang pada peristiwa tertentu dan harus diberikan atau diperbarui lagi oleh Roh Kudus sesuai dengan kehendak-Nya. Barangkali itulah sebabnya Paulus, yang pada sebuah peristiwa dapat menyembuhkan banyak orang (Kisah Para Rasul 19:11-12), tidak dapat menyembuhkan Epafroditus (Filipi 2:25-30), Trofimus (2 Timotius 4:20), maupun Timotius (1 Timotius 5:23).

        Jika para rasul saja tidak memiliki karunia penyembuhan yang permanen, maka cukup beralasan untuk mempertanyakan bila ada orang pada masa kini yang mengaku memiliki karunia penyembuhan yang menetap pada dirinya. Penyembuhan ilahi tidak selalu berupa tanda atau mukjizat, meskipun penyembuhan tersebut jelas merupakan penyembuhan adikodrati. Demikian pula penyembuhan melalui doa pada masa kini, tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang telah menggunakan karunia penyembuhan. Allah dapat menyembuhkan sebagai jawaban atas doa jika Dia menghendakinya.

        Bagaimana dengan cerita-cerita tentang penyembuhan yang mengerankan pada masa kini? Ke mana pun Anda pergi, Anda akan berjumpa dengan orang-orang yang bercerita bahwa mereka telah disembuhkan secara ajaib melalui doa, kunjungan ke kuil, atau pertolongan ahli kebatinan. Kecenderungan dari orang-orang yang belum percaya (bahkan banyak orang percaya) adalah bersikap acuh tak acuh atau menyangkal cerita-cerita tersebut. Meskipun demikian, belakangan ini banyak orang menerima cerita tersebut secara lebih serius tanpa memikirkan fenomena yang tak dapat dijelaskan itu sebagai mukjizat ilahi. Mereka dengan segera mengatakan bahwa pengampunan dan penyembuhan yang nyata terjadi di antara orang Kristen maupun non-Kristen. Mereka berlindung di balik misteri tentang hubungan antara pikiran, permasalahan dan kekuatan sugesti yang tak dapat dijelaskan. Mereka bahkan tidak berusaha menyangkal kesaksian tentang penyembuhan yang mengherankan dari orang-orang yang diobati para dukun dengan metodenya yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.

        Sebagai orang Kristen pendekatan kita tidaklah sama. Kita percaya kepada Allah dan kuasa penyembuhan-Nya. Banyak dari kita memiliki pengalaman mengenai penyembuhan yang mengherankan sebagai jawaban atas doa. Karena itu, kita tidak meragukan bahwa Allah dapat dan masih melakukan penyembuhan. Meskipun demikian, kita harus menyadari bahwa tidak semua peristiwa yang tak dapat dijelaskan secara manusiawi merupakan mukjizat Allah. Karena peristiwa-peristiwa tersebut dapat pula terjadi di antara para pemuja Iblis! Itulah sebabnya kita menguji kredibilitas seoarang pemimpin rohani berdasarkan apa yang diajarkannya, bukan berdasarkan analisa terhadap mukjizat-mukjizat yang pernah dilakukannya.

        Bagaimana dengan "duri dalam daging" yang dialami Paulus? Dalam 2 Korintus 12:1-10 Paulus berbicara tentang "duri dalam daging" yang dialaminya. Ia mengatakan bahwa duri itu "diberikan" kepadanya agar ia tidak meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang mengherankan yang diterimanya. Ia juga menyebutkan duri dalam daging itu sebagai "utusan Iblis untuk menggocoh aku." Tak diragukan lagi, pastilah Allah yang mengizinkan hal itu terjadi; karena Allah, bukan Iblis, yang menginginkan Paulus tetap rendah hati. Namun Iblis dapat menggunakan hal itu untuk menekan Paulus.

        Kita tidak tahu apa sebenarnya "duri" tersebut. Sejumlah dugaan telah dikemukakan. Ada yang menyebutnya penglihatan yang buruk, epilepsi, malaria. Sebagian lainnya ingin mempertahankan pendapat bahwa orang Kristen yang taat bebas dari penyakit, dan mengatakan bahwa "duri" itu adalah setan yang mendiami tubuhnya atau musuh yang sengit. Namun, pendapat terakhir ini tidak sesuai dengan perkataan Paulus, "Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus menaungi aku" (ayat 9). Iblis yang tinggal di dalam tubuhnya atau musuh yang sengit bukanlah "kelemahan". "Duri" itu dapat dipastikan semacam penderitaan jasmani, dan Allah memberikannya kepada Paulus demi kebaikan rohaninya. Allah tidak mengangkat penderitaan tersebut meski Paulus sudah berdoa dengan sungguh-sungguh agar Allah mengambilnya. Tetapi Allah memberikan anugerah dan kekuatan yang luar biasa sehingga Paulus dapat memandangnya sebagai berkat.

        Iman sebesar apakah yang saya butuhkan? Banyak orang berpendapat bahwa jika kita memenuhi persyaratan Allah, yakni memiliki iman yang cukup, kita akan selalu disembuhkan. Itulah sebabnya mereka dengan berani "menyebut dan meminta" kesembuhan total di kala berdoa. Mereka bahkan mengatakan kepada seseorang bahwa ia sudah sembuh, meskipun gejala penyakitnya masih ada.

        Dalam Christianity Today edisi 25 November 1993, Dr. Paul Brand menceritakan kisah sedih tentang sebuah keluarga yang mempercayai kesembuhan seperti itu. Ketika bayi laki-laki mereka yang berusia 15 bulan terserang semacam gejala flu, mereka mengikuti nasihat para pemimpin gereja dengan semata-mata bersandar pada doa untuk kesembuhannya. Beberapa minggu kemudian kondisi anak itu semakin memburuk bahkan berangsur-angsur kehilangan pendengaran dan penglihatannya. Akhirnya ia meninggal dan tak dapat hidup kembali meski mereka dengan sungguh-sungguh berdoa agar Allah menghidupkannya. Hasil otopsi menunjukkan bahwa penyebab kematiannya adalah semacam meningitis (radang selaput otak atau sumsum tulang belakang) yang sebenarnya dapat disembuhkan dengan mudah.

        Mereka memang memiliki iman yang hebat. Namun besarnya iman tidak menentukan apakah kesembuhan akan terjadi atau tidak. Adakalanya sebagian mukjizat Tuhan sama sekali tak berkaitan dengan iman orang-orang yang beruntung mendapatkan kesembuhan itu (Matius 12:9-13, Markus 1:23-28; Lukas 7:11-15; 13:10-13; 14:1; 22:50-51; Yohanes 9:1-38). Di samping itu, adakah kita mengatakan bahwa Paulus tidak disembuhkan dari "duri dalam daging" karena kurang beriman? Apakah Timotius juga kurang beriman sehingga ia mengalami gangguan pencernaan? (1 Timotius 5:23).

 

APAKAH ALLAH INGIN SAYA SEHAT?

Kini kita siap menjawab pertanyaan yang terdapat pada sampul buku ini. Ya, Allah ingin Anda sehat, seperti Dia "menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran" (1 Timotius 2:4). Namun, tidak semua orang menerima tawaran keselamatan-Nya. Allah ingin melihat anak-anak-Nya sehat, tetapi banyak dari mereka mengabaikan aturan-aturan kesehatan. Sebagian orang menempuh jalan yang salah dan perlu dihajar (Ibrani 12:6). Secara rohani kita semua mendapat berkat melalui ujian dan penderitaan. Baik Paulus maupun Yakobus mensihati orang percaya untuk bersukacita ketika mereka diuji oleh penderitaan (Roma 5:3-5; Yakobus 1:2-4). Pengajaran mereka menyakinkan kita bahwa penderitaan merupakan unsur yang sangat diperlukan dalam pertumbuhan rohani kita. Allah ingin kita sehat, tetapi tidak baik bagi kita untuk menjalani kehidupan tanpa penderitaan.

        Meskipun demikian, ini bukan berarti kita berpandangan buruk terhadap kesehatan jasmani atau kesenangan. Demikian pula tidak seharusnya kita pasrah menerima nasib bahwa kita harus mengalami banyak penderitaan. Sebaliknya, kita harus memandang kehidupan secara optimis. Firman Allah memberikan keyakinan dan mendukung cara hidup yang mendatangkan kesehatan fisik dan psikologis; sekurang-kurangnya melalui sembilan cara berikut:

  1. Firman Allah melepaskan kita dari beban rasa bersalah yang berat (Mazmur 32:1-2; Roma 5:1).

  2. Firman Allah memberi kuasa untuk melepaskan kepahitan batin yang disebabkan oleh roh yang tak mau mengampuni (Matius 6:12, 14-15; Efesus 4:32).

  3. Firman Allah mendukung pandangan positif terhadap tubuh kita, dan meyakinkan kita bahwa Roh Kudus tinggal di dalamnya (1 Korintus 6:19) dan bahwa tubuh kita akan mengalami kebangkitan (1 Korintus 15).

  4. Firman Allah mengajarkan bahwa hubungan seks menjadi aman dan memuaskan dalam ikatan pernikahan (1 Korintus 7:1-5; Ibrani 13:4).

  5. Firman Allah memberi anugerah kepada orang percaya yang tidak menikah, dan memampukan mereka untuk menjalani kehidupan yang bahagia dan memuaskan (1 Korintus 7:7-8; 32, 39-40).

  6. Firman Allah ditandai oleh pengharapan; yakni keyakinan yang pasti akan masa depan (Roma 8:31-39).

  7. Firman Allah meyakinkan bahwa kita adalah umat pilihan-Nya, yaitu bagian dari tubuh Kristus yang masing-masing memiliki karunia khusus demi kepentingan bersama (Roma 12:3-8; 1 Korintus 12:1-31).

  8. Firman Allah meningkatkan hubungan yang unik dengan Allah sehingga kita dapat datang kepada-Nya sebagai Bapa kita dengan penuh pengharapan dan meminta-Nya untuk menyembuhkan kita pada waktu sakit (Matius 7:7-11; Roma 8:15; Yakobus 5:14-15).

  9. Firman Allah memampukan kita untuk bersukacita, bahkan pada saat kita menderita (Kisah Para Rasul 5:41; 2 Korintus 4:16-18).

        Allah ingin Anda sehat. Dia mengizinkan penyakit dan penderitaan datang semata-mata demi kebaikan Anda. Dia memastikan bahwa Anda akan tetap sehat sepanjang kekekalan. Meyakini hal ini akan meningkatkan kesehatan Anda.

 

PENYAKIT, PENYEMBUHAN, DAN ANDA

Orang-orang muda jarang mengalami kesengsaraan dan penderitaan. Sebagian masih memiliki kakek dan nenek, dan ketika melihat kakek dan nenek mereka sakit atau mati, mereka berpikir hal itu tidak akan terjadi pada keluarga dekat mereka untuk jangka waktu yang lama. Namun, cepat atau lambat setiap orang akan merasa dekat dengan penderitaan, kesengsaraan, dan kematian. Oleh karena itu, kita harus bertanya pada diri sendiri, "Bagaimana saya harus bersikap saat dokter berkata, 'Maaf, kami telah berusaha semampu kami,' atau 'Saya harap Anda siap mendengar kabar buruk. Anda terkena penyakit kanker, dan kamu tak dapat berbuat banyak bagi Anda.'"

        Jika Anda percaya kepada Yesus Kristus, Anda akan dapat menghadapinya dengan tenang dan penuh pengharapan. Jika Anda belum hidup dalam ketaatan, Anda dapat meninggalkan dosa Anda dan kembali kepada Allah. Anda dapat meminta agar Tuhan menyembuhkan Anda. Anda dapat berdoa dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan menyembuhkan Anda jika hal itu membawa kemuliaan bagi-Nya dan memberi Anda kesejahteraan dalam kekekalan. Namun, jika Allah tidak menyembuhkan Anda, maka Dia akan memberikan anugerah-Nya kepada Anda dan menggunakan penderitaan itu demi kebaikan Anda.

        Jika Anda belum percaya kepada Yesus Kristus, percayalah saat ini juga. Akuilah dosa dan ketidakmampuan Anda untuk menyelamatkan diri sendiri. Percayalah bahwa Yesus mati di kayu salib untuk orang berdosa dan bangkit kembali. Kemudian berimanlah kepada-Nya. Percayalah bahwa Dia mati untuk Anda. Dia akan mengampuni Anda, mengangkat Anda menjadi anggota keluarga-Nya, dan memberi Anda kehidupan kekal. Dia akan memelihara Anda sekarang dan sampai selamanya.

 

 


Sumber:

Seri Mutiara Iman: Apakah Orang Kristen Harus Selalu Sehat?
Diterbitkan oleh Yayasan Gloria, Yogyakarta, 1997
Penerjemah: Dra. Fenny Veronika